
Masih teringat dalam memory otakku, berita beberapa caleg yang stress, gila dan mati bunuh diri karena gagal menjadi anggota legislative dalam pileg bulan kemarin, bahkan adapula yang mengambil kembali pemberiannya kepada orang lain, ini semua dikarenakan mereka siap menang tapi tidak siap kalah. Peristiwa semacam ini aku lihat nyata dikampungku yaitu pada proses demokrasi paling tingkat rendah moment PILKADES 2009, yang baru-baru ini terjadi hingga sa’at inipun masih memanas. Berikut sedikit kutipan ceritanya.
Dikampungku pada 18 Oktober 2009 diadakan pemilihan kepala desa yang baru dengan jumlah calon pemilih 2850 orang yang diikuti oleh dua orang calon. Calon no.1 kebetulan rumahnya terletak dibagian selatan kampungku, sedangkan calon no.2 rumahnya terletak dibagian utara kampung. Dua bulan sebelum hari pencoblosan situasi sudah memanas, masing-masing tim sukses atau “cucuk”[bahasa Jawa] dari kedua kubu saling melakukan manuver untuk meraih simpati warga.
Calon no.1 umurnya masih muda dari keluarga yang kaya, melakukan manuver dengan membagikan uang kepada warga, pada sa’at bulan puasa kemarin dia membagikan zakat mal dengan harapan orang yang diberi memilihnya nanti, ini dapat dilihat zakat tidak dibagikan hanya pada orang miskin tapi orang mampupun dapat. Selain dari keluarga yang mampu dia juga didukung oleh bos sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja outsourcing yang kaya raya juga. Salah satu kelemahan calon no.1 adalah kelakuannya sebagai seorang penjudi ulung dan pemabuk, sehingga simpatsinnyapun banyak dari kalangan para pemabuk.
Sedangkan calon no.2 dari keluarga sederhana putra seorang purnawirawan TNI, namun kelakuan seharinya-harinya terkenal santun dan teloran terhadap masyarakat dan ta’at beribadah. Dia sering memberikan pertolongan pada masyarakat sekitarnya setiap sa’at bukan hanya sa’at menjelang pilkades. Namun sayang kelemahannya adalah dia tidak punya cukup uang untuk meraih simpati warga. Sehingga setiap acara pertemuan simpatisan para simpatisanlah yang mengeluarkan biaya sendiri.
Pada malam hari menjelang pilihan esoknya, situasi makin panas masing-masing kubu mengutus tim suksesnya untuk berjaga-jaga diperbatasan kampung untuk mencegah masuknya orang luar yang akan melakukan serangan fajar. Peristiwa-peristiwa mistikpun banyak terjadi karena kubu calon no.1 menyewa beberapa paranormal, sedang kubu no.2 meminta pertolongan para Kiayi, ibarat perang ilmu hitam lawan ilmu putih. Sedang dirumah masing-masing calon pada malam itu ramai dikunjungi para simpatisan, segala hidangan aneka macam, tak ketinggalan beberapa bungkus rokok tergeletak dimeja tamu antara lain, Djarum Black, Djarum Black Slimz, Djarum Black Menthol dan merk lainnya. Yang jelas para tamu benar-benar dimanjakan. Diluar kampung tepatnya kampung sebelah banyak orang begadang terutama para penjudi yang akan bertaruh, kabar santer menyebutkan bahwa calon no.1 yang bakal memenangkan pilihan dikarenakan modal uang yang banyak, sehingga banyak penjudi yang menjagokan calon no.1.
Tepat minggu pagi 18 Oktober 2009 pemilihanpun dibuka jam 07.00WIB dan ditutup jam 14.00 kedua calon duduk diatas kursi pengantin calon agar warga tahu wajah calon kepala desanya, sebelum penghitungan dimulai kedua calon dipulangkan untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Pada awal-awal penghitungan calon no.1 unggul 60 suara untuk kotak pertama, ini membuat para simpatisan calon no.1 bersuka ria, namun bagi simpatisan no.2 banyak yang kecewa bahkan ada yang pingsan. Namun diluar dugaan pada penghitungan kotak suara selanjutnya calon no.2 mengungguli perolehan calon.1 hingga akhir penghitungan calon no.2 unggul 545 suara dan menang mutlak. Kemenangan ini membuat para simpatisan no.2 yang semula kecewa berubah menjadi bergembira.
Sementara kubu no.1 karena mengalami kekalahan mutlak amat kecewa dan marah, betapa tidak mereka menduga akan menang karena dukungan materi dan seorang bos tapi malah terbalik. Para penjudi yang bertaruh dan menjagokan no.1 pun banyak yang mengalami kekalahan. Yang amat aku sayangkan walau pilkades telah usai namun situasi tetap memanas, ribut antar tetangga yang beda pilihan. Pihak no.1 yang kalah mengungkit-ungkit pemberiannya yang berupa zakat. Mungkin karena calon no.1 telah keluar uang banyak tapi kalah.
Ternyata rahasia kemenangan calon no.2 dari keluarga yang sederhana adalah kebaikannya yang dilakukan setiap hari, walau sedikit namun dilakukan dengan ikhlas.
Jadi rahasia agar sukses untuk menjadi seorang pemimpin atau anggota legislative adalah dengan menanam kebaikan dari sekarang bukan sa’at pilihan. Dan dengan meraih simpati rakyat dengan senyum dan kebaikan, bukan dengan harta dan ketenaran. Yang terpenting juga “Siap Menang harus siap kalah”.
Mari Berkreasi !
0 komentar:
Poskan Komentar
Makasih atas kunjungannya..tolong kasih masukan :